This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 18 Desember 2013

Keterampilan Berbahasa

I. Pengertian Keterampilan Berbahasa

Menurut Hoetomo MA (2005:531-532) terampil adalah cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. Keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas. atau kecakapan yang disyaratkan. Dalam pengertian luas, jelas bahwa setiap cara yang digunakan untuk mengembangkan manusia, bermutu dan memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sebagaimana diisyaratkan (Suparno, 2001:27).   


Kunci Menulis Cerpen

Ø  BEBERAPA HAL KUNCI DALAM MENULIS CERPEN

1.      Peristiwa, Tokoh, Konflik
Narasi adalah cerita. Cerita didasarkan pada urutan kejadian atau peristiwa. Dalam kejadian-kejadian tersebut terdapat tokoh. Tokoh-tokoh tersebut menghadapi serangkaian konflik atau pertikaian. Tiga hal tersebutlah (urutan peristiwa, tokoh, dan konflik) yang merupakan unsur pokok sebuh narasi. Kesatuan dari urutan peristiwa, tokoh, dan konflik itulah yang sering disebut alur atau plot. arasi bisa berupa fakta, bisa pula berupa fiksi atau rekaan. Narasi yang berisi fakta antara lain biografi (riwayat hidup seseorang), otobiografi (riwayat hidup seseorang yang ditulisnya sendiri. Narasi yang berisi fiksi atau rekaan antara lain novel, cerita pendek, cerita bersambung, atau cerita bergambar. Plot atau alur dalam sebua narasi dapat berupa alur tunggal, dapat pula terdiri dari alur utama dan beberapa buah alur tambahan atau sub-plot.
2.      Latar dan Warna
Alur cerita (kejadian, konflik, dan tokoh) tentu saja tidak terjadi dari kekosongan (vacuum). Pasti peristira tersebut terjadi pada waktu tertentu dan di tempat tertentu. Maka alur terikat pada latar waktu dan latar tempat. Latar tempat dan latar waktu membutuhkan kekhususan dan ketajaman deskripsi yang menunjukkan pada pembaca bahwa waktu dan tempat kejadian tersebut benar-bena khas sehingga cerita tidak daat dipindahkan secara sembarangan karena kekhasan tersebut memberikan nilai tertentu. Inilah yang disebut sebagai warna lokal dalam cerita. Warna lokal ini diciptakan dengan memberikan deskripsi yang teliti tentang lokasi, benda-benda, tokoh-tokoh serta kebiasaan-kebiasaan setempat, dialog tokoh-tokohnya yang mengandung dialek-dialek tertentu
3.      Kerangka (Kisi-kisi Alur)
Kerangka atau kisi-kisi alur sangat penting untuk dibuat sebelum kita menulis cerpen. Kisi-kisi alur ini digunakan untk menjaga agar dalam cerita yang akan kita buat tidak terjadi anakronisme, yaitu peristiwa yang salah waktu dan tempatnya. Di samping itu, kisi-kisi ini juga berguna untuk mempertahankan cerita agar dalam pengembangannya cerita tetap terfokus pada konflik yang direncanakan, tidak melantur ke mana-mana. Posisi ”Kita”Dalam sebuah narase tentu saja ada yang bercerita, yang menceritakan kepada kita apa saja yang terjadi. De fakto yang bercerita adalah penulis cerita itu. Penulis cerita dalam bercerita dapat mengambil posisi sebagai orang di luar cerita yang menceritakan segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya. Atau, bisa pula penulis mengambil posisi seolah-olah ia berada di dalam cerita tersebut. Ia ikut menjadi salahsatu tokoh dalam cerita yang dibuatnya itu.Pengambilan posisi diri ini sangat mempengaruhi cerita yang akan dibuatnya. Maka, diperlukan pertimbangan matang untuk memilih gaya pertama, atau gaya kedua sehingga nantinya terdapat konsistensi dalam bercerita.
4.      Percakapan (Dialog)

Sebenarnya tidak ada aturan baku yang mengatur seberapa besar porsi dialog dalam sebuah cerita. Artinya, boleh saja sebuah cerpen sejak awal sampai akhir isinya dialog antartokoh. Porsi deskripsi latar dan peristiwanya dibuat seminimal mungkin. Namun, boleh juga sebuah cerpen hanya terdiri dari deskripsi semua, tidak ada dialog sama sekali.Hanya, rasa-rasanya akan menjadi cerpen yang tidak enak dibaca ketika tidak terdapat keseimbangan antara dialog dan deskripsi latar.

Teknik Menulis Cerpen

Ø  MENULIS CERITA PENDEK (Bagian Pertama)
Siapa yang tidak bangga jika cerpennya dimuat di majalah Kawanku, Gadis, Hai, atau mungkin di surat kabar Kedaulatan Rakyat, Kompas? Kiranya tidak ada yang tidak senang. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh mulai dari diberi ucapan selamat dari teman-temannya, diberi predikat baru sebagai “sastrawan”, mendapat honorarium, dan mungkin guru Bahasa Indonesianya memberikan “bonus” nilai.

Kemampuan menulis karya sastra pada satu sisi diyakini sebagai sebuah bakat yang nota bene dibawa seseorang sejak lahir, namun pada sisi lain diyakini sebagai sebuah hasil belajar. Dari berbagai sharing pengalaman dari orang-orang yang sudah menghasilkan karya sastra, sebagian besar di antaranya mengatakan bahwa kemampuan mereka lebih banyak ditentukan oleh latihan, latihan, dan latihan. Kalau dibuat perbandingan, factor bakat hanya memberikan kontribusi 10-15%, sedangkan selebihnya adalah factor belajar dan latihan. Tuntutan yang diberikan oleh kurikulum untuk siswa SMA sebenarnya tidak terlalu tinggi. Namun, tidak ada salahnya jika kemampuan menulis cerpen yang akan dipelajari ini dapat memberikan bekal hidup di kelak kemudian hari. Artinya, siapa tahu dengan sungguh-sungguh belajar menulis cerpen, ketika menempuh pendidikan di perguruan tinggi, para siswi dapat ”nyambi” mencari uang saku melalui cerpen. Di sela-sela kuliah mereka dapat menghasilkan cerpen yang kemudian dikirim ke media massa, dan kalau dimuat akan mendapat uang saku. Dengan demikian, generasi muda ini tidak seratur persen bergantung pada orangtua mereka. Dengan kemandirian finansial seperti itu proses hidup sebagai ”parasit” bagi orang lain dapat sesegera mungkin diakhiri.

Selasa, 17 Desember 2013

Artikel

Linguistik sebagai ilmu yang mempelajari dan menelaah bahasa, memilih persamaan dengan ilmu-ilmu lainnya dalam hal sejarah dan perkembangannya bersifat dinamis. Dalam tradisi yunani kuno dikenal pertama kali bahwa linguistik berkembang pesat melahirkan prespektif-prespektif baru dalam bidangnya. Ferdinant de Saussure (1857-1913): dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern berdasarkan pandangan-pandangannya yang penting dalam bidang linguistik. Salah satu pakar linguistik di eropa timur yang dikenal sebagai Aliran Praha-pengaruh. Dalam aliran Praha ini lebih menjelaskan tentang Fonologi, Sintaksis, dan Morfofonologi. Aliran praha sangat besar terutama dalam bidang Fonologi dengan menerapkan teori saussure kepada penjabaran konsep fonem. Selain menekankan pada bidang fonologi, aliran ini juga menekankan pada bidang Sintaksis, sedangkan dalam bidang Morfologi tidak terlalu banyak. Rumusan dalam kajian artikel ini meliputi Bagaimana siswa dalam menerapkan Tentang Aliran Praha ini kedalam pelajaran bahasa indonesia dan Bagaimana siswa menerapkan suatu bidang fonologi, sintaksis, dan morfofonologi ke dalam pelajaran bahasa indonesia. Sedangkan dalam artikel ini mempunyai tujuan yaitu Agar Siswa lebih menegerti dan dapat berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar dari segi tulisan maupun secara lisan dan  Siswa bisa menerapkan serta memahami tentang fonologi, sintaksis, dan morfofonologi. Adapun manfaatnya yaitu Siswa dapat berbahasa indonesia dengan baik dan benar dari segi tulisan maupun secara lisan, Selain itu siswa dapat menerapkan bidang fonologi, sintaksis, maupun morfofonologi kedalam sebuah kalimat bahasa indonesia  yang baik dan benar.
2. Isi
   Pertama dalam aliran Praha ini adalah di bidang Fonologi. Fonologi merupakan ilmu yang mempelajari bunyi (bahasa), bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Dalam fonologi dibedakan menjadi dua yaitu fonetik dan fonemik. Fonetik merupakan ilmu yang mempelajari pembentukan bunyi bahasa. Fonetik dibedakan atas tiga jenis, yaitu: Fonetik Artikulatoris, Fonetik Akustis, dan Fonetik  Auditoris. Fonetik artikulatoris mempelajari mekanisme alat bicara manusia. Fonetik akustis mempelajari bunyi sebagai gejala fisis. Fonetik auditoris mempelajari mekanisme telinga menerima bunyi bahasa. Sedangkan fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa sebagai pembeda arti. Ukuran untuk menentukan apakah bunyi-bunyi ujaran beroposisi atau tidak adalah makna : perbedaan fonetis yang tidak menimbulkan perbedaan semantik tidaklah di distingitif. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, kontras antara p dan b, dan antara t dan d dapat terjadi pada posisi awal dan tengah, seperti pada contoh (1) tetapi tidak terjadi pada posisi akhir, seperti pada contoh (2) karena maknanya tetap sama.
(1)   paku x baku, tepas x tebas
(2)   adat x adad,  jawab x jawap
Ketiadaan kontras seperti ini disebut netralisasi dan varian yang dihasilkan dari netralisasi disebut arkifonem, yang lazim dilambangkan dengan huruf besar. Dalam contoh /jawab/ X /jawap/ arkifonemnya dapat dilambangkan dengan huruf /P/ atau /B/ dan dalam contoh /abad/ X /abat/ arkifonemnya dilambangkan dengan huruf /D/ atau /T/.Demikianlah, fonem merupakan seberkas ciri-ciri pembeda. Selanjutnya, fonem dapat dibatasi sebagai suatu rangkaian pilihan berpasangan.
Dalam ajaran fonologi tersebut siswa diharapkan dapat memahami dan bisa mengucapkan suatu kalimat bahasa indonesia dengan baik dan benar. Selain itu siswa seharusnya bisa mengerti bagaimana pembentukan proses suatu bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia dan bisa mengerti maknanya. Dengan berkembangnya zaman tersebut banyak siswa sekolah yang kesulitan untuk mengucapkan suatu bahasa indonesia dengan baik, walaupun bahasa indonesia merupakan bahasa sehari-hari. Tetapi kenyataanya mereka masih lemah. Dengan adanya pelajaran fonologi tersebut yang diterapkan disekolah dapat membantu siswa untuk mengucapkan suatu bunyi bahsa dengan baik dan benar.
Yang kedua dalam aliran praha ini dibidang morfofonologi. Morfofonolgi merupakan Bidang yang menghubungkan tingkat fonologi dan morfologi. Dalam bidang ini siswa meneliti perubahan-perubahan fonologis yang terjadi akibat hubungan morfem dengan morfem pada sebuah kalimat. Misal fonem /p/ dan /b/ tidak berkontras, tetapi bila kata /jawab/ yang mungkin dilafalkan /jawap/ atau /jawap/ diimbuhi sufiks-an, maka hasilnya adalah /jawaban/ dan bukannya /jawapan/. Jadi siswa menhubungkan bunyi bahasa dan struktur kalimat bahsa indoneisa supaya dapat dilafalkan secara benar.

Yang ketiga dalam aliran praha dibidang sintaksis. Sintaksis merupakan membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain, atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran. Dalam sistaksis siswa mempelajari tentang 1) struktur sintaksis mencakup masalah fungsi, kategori, dan peran sintaksis, 2) dalam satuan- satuan sintaksis yang berupa kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. 3) hal-hal lain yang berkenaan dengan sintaksis, seperti masalah modus, aspek, dll. Siswa pada saat ini sangat lemah dengan membuat kalimat secara benar, mereka tanpa memperhatikan struktur kalimatnya. Contoh pada kalimat “Ani Belajar Matematika setiap hari dirumah sofi”. Siswa harus tahu struktur kalimatnya dimana “Ani” sebagai Subjek, “Belajar “ sebagai Predikat, “Matematika” sebagai Objek, dan “setiap hari dirumah sofi” sebagai Keterangan. Selain struktur formalnya juga terdapat sruktur informasinta yaitu “Tema dan Rema”. Tema adalah apa yang dibicarakan, sedangkan rema adalah apa yang dikatakan tema. Tiap kalimat terdiri dari dua bagian, yaitu tema dan rema.  Yang sangat tinggi tatarannya dalam sintaksis ini wacana. Terkadang siswa sulit untuk mengindentifikasi dalam sebuah wacana tersebut. dengan adanya sintaksis ini diharapkan siswa tidak kesulitan dalam membuat sebuah kalimat, frase, klausa maupun wacana, sehingga bahasa indonesia bisa terus untuk dikembangkan dengan baik dan benar secara tulisan maupun lisan. 

Linguistik Umum

APA LINGUISTIK ????
n  Berdasarkan Kamus:
Hassan Shadily (1977:633-634): Linguistik adalah penelaahan bahasa secara ilmu pengetahuan. Tujuan utamanya ialah mempelajari suatu bahasa secara deskriptif. Mempelajari bahasa berdasarkan sejarah atau ilmu perbandingan bahasa, berarti mempelajari hubungan satu bahasa dengan bahasa lainnya.
A.S. HORNBY, E.V. GATENBY,  H. WAKEFIELD (1961:733)
Sebagai kata sifat: Linguistics: the study of languages. Sebagai kata benda: Linguistics: the science of  language; methods of  learning and s tudying languages. (Linguistik: ilmu pengetahuan bahasa; metoda pelajaran dan belajar bahasa). Linguist kata benda yang berarti a person who is clever in foreign languages/ orang yang mengetahui bahasa asing (menguasai banyak bahasa.).
Secara etimologis
Linguistikà lingua (Latin) yang bermakna bahasa. sama dengan langue, langage (Perancis)  berpadanan dengan lengua (spanyol) dan  lingua (Italia). Ferdinand de Saussure, Seorang sarjana swiss yang merupakan pelopor linguistik modern dalam bukunya Cours de linguistique générale (1916) mengemukakan istilah langage, langue dan parole. Langage dalam bahasa Perancis berarti bahasa pada umumnya. Langue dalam bahasa Perancis bermakna bahasa tertentu misalnya bahasa Indonesia, Bahasa Madura, Bahasa Jepang dll. Parole berarti logat, ucapan, perkataan (speech Ingris). Language dalam bahasa Ingris maknanya dapat meliputi langue dan langage dalam bahasa Perancis.
Linguistik : ilmu bahasa atau ‘studi ilmiah mengenai bahasa’ (Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan sebagai berikut:
The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.”
Pengertian lain: Secara umum linguistik adalah bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.
Ø  Linguistik dan Linguis
Linguistik berasal dari bahasa latin yaitu lingua yang berarti bahasa. Istilah dari prancis linguistik adalah linguistique; dari bahasa inggris adalah linguistics.
Pakar linguistic di sebut juga Linguis.
Ø  Ciri Keilmuan Linguistik
Linguistik memunyai 3 ciri yaitu:
a. Eksplisit
Adalah jelas, menyeluruh, tidak memunyai dua makna, pasti atau konsisten.
Contoh:
MeN+tulis=menulis
Men+tanam=menanam
b. Sistematis
Adalah berpola dan beraturan
 MeN+ubah→ Mengubah
 MeN+ukur → Mengukur
Kalimat atau kata senantiasa memiliki pola yang jelas, perubahan yang terjadi pada sebuah karakter kalimat atau kata akan tetap demikian pada kata yang lain.
c. Objektif
 sesuai keadaan atau apa adanya.
Yang diteliti dalam bahasa ialah ordinary language atau bahasa seperti apa adanya, aslinya, tanpa ada pengubahan.
Peneliti memotret fenomena kebahasaan sesuai realita.
Misalnya: fenomena bahasa dalam judul berita
Kejaksaan *Ungkap Kejahatan Perbankan.

Ø  Bahasa
bahasa, seperti dinyatakan oleh Haidegger, adalah tempat tinggal manusia (The House of Being), karena dengan bahasa ini pulalah dapat diungkapkan apa yang diinginkan oleh manusia, dengan bahasa pulalah makna hadir dengan bebasnya dalam atmosfir kesadaran manusia.
Ø  Hakikat Linguistik
Hakikat Linguistik.
Ferdinand de Saussure (Prancis)
di anggap sebagai pelopor linguistic modern.
Bukunya yang terkenal adalah Cours de linguistique generale (1916).Istilah yang dugunakannya digunakan hingga kini dalam linguistik (langage, langue, parole)
.
Ø  Berbagai dikotomi istilah pokok dalam kajian linguistic
(a). Langue vs parole,  (b). Kompetensi vs performansi,  (c). Struktur dalam vs struktur    permukaan,  (d). Struktur vs fungsi.
Ø  Langage, Langue, dan Parole
1) Langage.
Adalah satu kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan; adalah bahasa yang sifatnya umum.
2) Langue.
Adalah mengacu pada suatu sistem bahasa tertentu yang ada dalam benak seseorang; bahasa tertentu, misal: bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dll
3) Parole.
Adalah ujaran yang di ucapkan atau di dengar oleh kita.
Ø  Langage: Sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal di antara sesama pemakai bahasa. Bersifat abstrak dan juga bersifat universal sebab langage adalah satu sistem lambang bunyi yang digunakan manusia pada umumnya, bukan manusia pada suatu tempat atau masa tertentu. Dalam bahasa Indonesia langage bisa dipadankan dengan kata bahasa seperti terdapat dalam kalimat “manusia mempunyai bahasa, binatang tidak”. Jadi, penggunaan istilah bahasa dalam kalimat tersebut, sebagai padanan kata langage, tidak mengacu pada salah satu bahasa tertentu, melainkan mengacu pada bahasa umumnya sebagai sarana komunikasi manusia.
Ø  Langue : Sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Mengacu pada satu sistem lambang bunyi tertentu yang jika dipadankan dengan bahasa dalam bentuk kalimat “Joni belajar bahasa Arab, sementara Taufik belajar bahasa Sunda”. Sebagaimana langage, langue juga punya pola, keteraturan, atau kaidah-kaidah yang dimiliki manusia, akan tetapi kaidah-kaidah itu bersifat abstrak alias tidak semata-mata digunakan.Langue adalah cabang linguistik yang menaruh perhatian pada tanda-tanda (sign) bahasa atau ada pula yang menyebutnya sebagai kode-kode (code) bahasa.
Ø  Parole : Jika istilah langage dan langue bersifat abstrak, maka istilah yang ketiga dari konsep Saussure tentang bahasa yaitu Parole itu bersifat konkret. Parole itu merupakan pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran/tuturan yang dilakukan oleh anggota masyarakat di dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan sesamanya. Dalam bahasa Indonesia bisa dipadankan dengan bahasa dalam kalimat “ Kalau Kiayi Abd Wafi pidato, bahasanya penuh dengan kata demikian”. Jadi parole itu bersifat nyata, dan dapat diamati secara empiris.Parole adalah living speech, yaitu bahasa yang hidup atau bahasa sebagaimana terlihat dalam penggunaannya.
Ø  Kompetensi ialah pengetahuan gramatika. Pembicara-pendengar yang ideal dalam suatu masyarakat yang homogen mengetahui dan menguasai kaidah-kaidah gramatika bahasanya. Pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat abstrak, yang berisi pengetahuan tentang kaidah, parameter atau prinsip-prinsip, serta konfigurasi konfigurasi sistem bahasa. Kompetensi kebahasaan merupakan pengetahuan gramatikal yang berada dalam struktur mental di belakang bahasa.
Ø  Performansi ialah Masalah bagaimana menggunakan bahasa dalam aktualisasi konkret Performansi itu tidak sepenuhnya mencerminkan kompetensi kebahasaan. Dikemukakan oleh Chomsky bahwa dalam pemakaian bahasa secara konkret banyak ditemukan penyimpangan kaidah, kekeliruan, namun semua itu masih dapat dipahami oleh pembicara-pendengar karena mereka mempunyai kompetensi kebahasaan.
Ø  Struktur Dalam ialah Disebut juga struktur batin (deep structure, deep grammar, underlying structure) Struktur yang mendasari kalimat untuk memaknai kata secara tidak langsung dari unsur kata yang membentuknya, misalnya: Meja kayu  dan Meja kantor.Berstruktur lahir sama, tetapi memiliki makna berbeda
Meja kayu menyatakan, ‘asal’
Meja kantor  menyatakan, ‘milik’
Ø  Struktur Permukaan ialah Disebut srtuktur lahir (surface structure) Hubungan gramatikal antara kata-kata dalam frase atau kalimat yang konkret, misalnya Meja kayu dan Meja kantor memunyai struktur lahir yang sama yaitu N+N.
Ø  Struktur ialah organisasi unsur bahasa yang bersifat ekstrinsik, bersifat abstrak, dan bersifat intuitif; pola bermakna dari unsur bahasa Misalnya kalimat:
Pemerintah melaksanakan kebijakan baru.
       S                P                    O
Ø  Fungsi ialah Peran unsur  bagian kalimat yang lebih luas, misalnya:
Pemerintah melaksanakan kebijakan baru.
Berfungsi    : Nomina -Verba   -Nomina
                Pemerintah melaksanakan kebijakan baru.
Str:                 S                     P                           O
Fung:            N                     V                           N
Bahasa Sebagai Sistem
n  Bahasa bukanlah unsur yang terkumpul secara tak beraturan. Karena bersistem maka bahasa bersifat sitematis: bahasa dapat diuraikan atas satuan-satuan terbatas yang berkombinasi denga kaidah-kaidah yang dapat diramalkan. Selain itu bahasa juga sistemis: bahasa bukanlah sistem yang tunggal melainkan terdiri dari beberapa subsistem yakni subsistem fonologi, subsistem gramatika dan subsistem leksikon. Bahasa adalah sistem lambang penggunaannya berdasarkan perjanjian dan untuk memahaminya harus dipelajari. Karena lambang maka bermakna: berkaitan dengan segala aspek kehidupan dan alam sekitar masyarakat pemakainya. Karena lambang maka konvensional: harus dipelajari dan disepakati oleh pemakainya. Bahasa adalah sistem bunyi: Wujud alamiah bahasa adalah bunyi. Bersifat arbitrer: tak ada hubungan wajib antara satuan-satuan bahasa dengan yang dilambangkannya. Bersifat produktif:: unsurnya terbatas tetapi dipakai secara tidak terbatas oleh pemakainya. Abjad sedikit, kata banyak, kalimat lebih banyak lagi. Bersifat unik: setiap bahasa mempunyai sistem yang khas yang tidak harus ada dalam bahasa lain. Bersifat universal. Ada sifat bahasa yang bersifat umum ada yang agak umum/ agak universil. Bahasa memiliki variasi, dialek, sosiolek dll. Berfungsi mengidentifikasikan diri. Dengan ciri khas bahasa maka suatu kelompok sisial berbeda dengan kelompok sosial yang lain. Bahasa menunjukkan bangsa.
Kedudukan Fonologi dalam Linguistik
Istilah FONOLOGI berasal dari kata FON yang berarti bunyi dan LOGOS yang berarti ilmu pengetahuan. FONOLOGI adalah ilmu yang mempelajari bunyi (bahasa), yaitu bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.
Ø  Pembagian Bidang Fonologi :Fonologi dibagi dalam dua bidang yaitu Fonetik dan Fonemik. Fonetik adalah ilmu yang mempelajari pembentukan bunyi bahasa. Fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa sebagai pembeda arti.
Ø  Pembagian Fonetik : Fonetik dibedakan atas tiga jenis, yaitu: Fonetik Artikulatoris, Fonetik Akustis, dan Fonetik  Auditoris. Fonetik artikulatoris mempelajari mekanisme alat bicara manusia.Fonetik akustis mempelajari bunyi sebagai gejala fisis. Fonetik auditoris mempelajari mekanisme telinga menerima bunyi bahasa.

Ø   FONETIK ARTIKULATORIS
Alat ucap manusia yang pokok adalah PARU-PARU sebagai sumber udara, PITA SUARA, ALAT UCAP (LIDAH, BIBIR, DSB).
 3 BAGIAN BESAR  ALAT UCAP
Proses Terjadinya Bunyi Bahasa
  1. Udara mengalir melalui paru-paru
  2. Udara digetarkan pada bagian pita suara (proses fonasi)
  3. Udara keluar melalui rongga mulut atau rongga hidung dengan/tanpa hambatan
Arus Udara : adalah sumber energi utama bagi pembentukan bunyi bahasa.Arus udara ada dua macam, yaitu: ARUS UDARA INGRESIF dan ARUS UDARA EGRESIF.
Pita Suara : Pita suara digetarkan oleh udara yang  keluar atau masuk dalam paru-paru.Terletak pada pangkal tenggorok (laring). Pita suara dapat MEMBUKA, MEMBUKA LEBAR, MENUTUP, dan MENUTUP RAPAT. Celah antara sepasang pita suara disebut GLOTIS.
Epiglotis (katup Pangkal Tenggorok) : Berfungsi untuk melindungi masuknya makanan atau minuman ke batang tenggorok.Tidak mempunyai peran dalam pembentukan bunyi bahasa.
Rongga Kerongkongan (faring) : Terletak di antara pangkal tenggorok dengan rongga mulut dan rongga hidung. Berfungsi sebagai saluran makanan dan minuman. Berperan sebagai tabung udara yang ikut bergetar bila pita suara bergetar.
Langit-langit  Lunak (Velum) : Bagian ujung langit-langit lunak disebut uvula (anak tekak) yang dapat turun naik. Dalam keadaan bernapas normal, langit-langit lunak beserta anak tekak menurun sehingga udara dapat keluar masuk melalui rongga hidung.
KLASIFIKASI BUNYI BAHASA
Ada tidaknya gangguan (vokal, konsonan, semi vokal), Arah udara (egresif dan ingresif), Pita suara (bunyi bersuara, bunyi tak bersuara), Saluran lewatan udara (oral, nasal, sengau), Mekanisme artikulasi (bilabial, dental,dsb), Cara gangguan (stop hambat, alir, frikatif, dsb).
BUNYI VOKAL
Bunyi yang dihasilkan tanpa melibatkan penyempitan atau penutupan pada daerah artikulasi (Muslich, 2008). Bunyi yang dihasilkan tanpa hambatan pada alat bicara, jadi tidak ada artikulasi. Hambatan pada bunyi vokal hanya terjadi pada pita suara saja.
VOKAL KARDINAL : Daniel Jones, seorang ahli fonetik dari Inggris memperkenalkan sistem vokal kardinal (cardinal vowels). Vokal kardinal ialah bunyi-bunyi vokal yang mempunyai kualitas bunyi tertentu, keadaan lidah tertentu, dan bentuk bibir tertentu.Vokal kardinal digunakan sebagai acuan perbandingan dalam deskripsi vokal semestaan bahasa di dunia.
CONTOH BUNYI VOKAL BAHASA INDONESIA
BUNYI KONSONAN
Bunyi yang dihasilkan dengan menghambat arus udara pada sebagian alat bicara, jadi ada artikulasi. Apabila proses artikulasi disertai bergetarnya pita suara, menghasilkan konsonan bersuara [b,d, g, j]. Apabila proses artikulasi tidak disertai bergetarnya pita suara (glotis terbuka) menghasilkan konsonan tak bersuara [k, p, t, s].
KLASIFIKASI KONSONAN : Cara dihambat (artikulasi), Tempat hambatan (tempat artikulasi), Hubungan posisional antara penghambat-penghambatnya atau hubungan antara artikulator aktif dan pasif (striktur), Bergetar tidaknya pita suara .
BUNYI SEMI-VOKAL : Bunyi semi-vokal secara praktis termasuk konsonan. Contoh: [w] proses pembentukannya menyerupai [u], namun bibir yang membentuk bundaran dipersempit sehingga arus udara hampir terhambat (labialisasi). Semi-vokal [y]  proses pembentukannya menyerupai [i], namun posisi lidah dinaikkan terlalu tinggi ke arah langit-langit keras (palatalisasi).
BUNYI DIFTONG : Diftong (vokal rangkap) adalah dua buah vokal yang dibunyikan dalam kesatuan waktu. Diftong ada dua macam, yaitu diftong naik dan diftong turun. Dalam bahasa Indonesia hanya terdapat diftong naik [ai, oi, au]. Contoh diftong lain: oi, ai, ui (bahasa Madura), ua, uo, ue (bahasa Jawa).
BUNYI KLUSTER : Kluster (konsonan rangkap) adalah dua atau tiga konsonan yang dibunyikan dalam kesatuan waktu. Pola bunyi dalam bahasa Indonesia sebenarnya tidak mengenal kluster. Kluster yang digunakan dalam bahasa Indonesia merupakan serapan. Contoh: [pr], [tr], [fr], [bl], [kl], [kw], [dw], [sw], [str], [skr],... dst
BUNYI SUPRASEGMENTAL : a)Bunyi-bunyi yang menyertai bunyi segmental, b)Bunyi suprasegmental (prosodi) meliputi nada, tekanan, durasi, jeda, c)Nada menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi, d)Tekanan menyangkut keras lemahnya bunyi diujarkan, e)Durasi menyangkut panjang pendeknya bunyi, f)Jeda menyangkut perhentian (kesenyapan) bunyi.
NADA (PITCH) : Nada dapat dibedakan atas nada naik, nada datar, nada turun, nada turun naik, nada naik turun.Nada dipengaruhi ketegangan pita suara dan getaran pita suara. Semakin tegang, semakin cepat getarannya, nada yang terdengar semakin tinggi. Dalam bahasa Indonesia, nada tidak fungsional (tidak membedakan makna).
TEKANAN (STRESS) : Tekanan dipengaruhi kekuatan arus udara. Semakin kuat ketegangan arus udara, bunyi terdengar semakin keras.Tekanan dibedakan atas tekanan keras dan tekanan lunak (lemah). Dalam bahasa Indonesia, tekanan tidak membedakan makna dalam tataran kata, tetapi membedakan maksud dalam tataran kalimat.
DURASI : Durasi dalam bahasa Indonesia tidak fungsional dalam tataran kata, tetapi fungsional dalam tataran kalimat.Contoh: awas jatuh [awa:s/ jatu:h], saya senang [saya sena:ng]
JEDA : Jeda atau perhentian dapat terjadi antarkalimat, antarkata, antarsilaba.Jeda antarsilaba ditandai [+], antarkata [/], antarfrase [//], antarkalimat [#]. Dalam bahasa Indonesia, jeda fungsional. Contoh: anak/pejabat yang nakal anak pejabat/ yang nakal .
PERUBAHAN BUNYI : ASIMILASI, DISIMILASI, MODIFIKASI VOKAL, NETRALISASI, ZEROISASI, METATESIS, DIFTONGISASI, MONOFTONGISASI, dan ANAPTIKSIS.
Bunyi lingual cenderung berubah karena lingkungannya Perubahan bunyi lingual dibedakan atas (1) perubahan fonetis (2) perubahan fonemis. Perubahan fonetis tidak mengubah identitas fonem, contoh: [t] pada [tentang] dan [tendang]. Perubahan fonemis mengubah identitas fonem, contoh: [vis] – [ik eet fis]
ASIMILASI : Perubahan bunyi dari dua bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama atau yang hampir sama. Asimilasi dapat digolongkan menjadi (1) asimilasi progresif, (b) asimilasi regresif, (c) asimilasi resiprokal.
ASIMILASI PROGRESIF : Bunyi yang diasimilasikan terletak sesudah bunyi yang mengasimilasikan. Contoh:   top – stop.  [t] pada [top] apiko-dental [t] pada [stop] lamino-palatal, karena [s] adalah lamino-palatal. Contoh:    [t] pada [tari] apiko-dental  [t] pada [santai] apiko-alveolar karena [n] apiko-alveolar.
ASIMILASI REGRESIF : Bunyi yang diasimilasikan terletak sebelum bunyi yang mengasimilasikan. Contoh: [k] pada [zak] velar tak bersuara,  [d] pada [doek] apiko-dental bersuara, [k] pada [zakdoek] velar bersuara.Contoh: meN + bawa = membawa, [N] berwujud [m] bilabial karena [b] pada [bawa] adalah bilabial.
ASIMILASI RESIPROKAL : Kedua bunyi saling mengasimilasikan sehingga menimbulkan bunyi baru. Contoh: [holan] + [ho] = [holakko], [suan] + [hon] = [suatton].
DISIMILASI : Perubahan bunyi dari dua bunyi yang sama menjadi tidak sama. Contoh: [sajjana] – [sarjana], [sayur sayur] – [sayur mayur], [berajar] – [belajar]
MODIFIKASI VOKAL : Perubahan bunyi vokal sebagai pengaruh bunyi lain yang mengikutinya. Contoh: [oto] – [OtOt], [balI?] – [balikan]
NETRALISASI : Hilangnya fungsi pembeda suatu fonem akibat pengaruh lingkungan. Contoh: [b] pada [sebab] dibunyikan [p] karena [b] tidak mungkin ada pada posisi koda
ZEROISASI : Penghilangan bunyi fonemis sebagai upaya ekonomisasi pengucapan. Contoh: [tetapi] – [tapi]  aferesis, [pelangit] – [pelangi]  apokop,  [dahulu] – [dulu]  sinkop
METATESIS : Perubahan urutan bunyi fonemis pada suatu kata sehingga menjadi dua bentuk kata yang bersaing. Contoh: kerikil – kelikir, jalur – lajur,  brantas – bantras, serap – resap, almari - lemari
DIFTONGISASI : Perubahan bunyi vokal tunggal (monoftong) menjadi vokal rangkap (diftong). Contoh: anggota – anggauta,teladan – tauladan, sentosa – sentausa.
MONOFTONGISASI :Perubahan dua bunyi vokal rangkap (diftong) menjadi vokal tunggal (monoftong). Contoh: kalau – kalo, danau – dano,  satai – sate.
ANAPTIKSIS : Perubahan bunyi dengan jalan menambahkan bunyi vokal tertentu di antara dua konsonan untuk memperlancar ucapan. Contoh: mpu – empu (protesis), sloka – seloka (epentesis), adi – adik (paragog).

SUKU KATA (SILABA) : Satuan kenyaringan bunyi yang diikuti dengan satuan denyutan dada yang menyebabkan udara keluar dari paru-paru. Contoh: [mendaki] memiliki 3 puncak  kenyaringan bunyi [men+da+ki]. Pada umumnya struktur suku kata terdiri atas satu bunyi sonor yang berupa vokal